Go Green Go Etnopharmacy

Laman

Etnofarmasi

Etnofarmasi suku Tengger desa Ngadas kecamatan Poncokusumo kabupaten Malang

Etnofarmasi

Etnofarmasi suku Tengger kecamatan Senduro kabupaten Lumajang

Industri Farmasi

Omzet Industri Farmasi Tumbuh 12%

Hutan Indonesia

Hutan Tropisku

Pemanasan global

Global Warming

Sabtu, 05 November 2011

Etnofarmasi Suku Tengger kecamatan Sukapura kabupaten Probolinggo

Dari penelitian Etnofarmasi ini didapatkan bahwa pengetahuan atau penggunaan obat tradisional pada Suku Tengger Kecamatan Sukapura yang terdiri dari 5 desa yaitu Desa Ngadirejo, Desa Ngadas, Desa Jetak,Desa Wonotoro, dan Desa Ngadisari telah terinventarisir 29 jenis penyakit dengan 60 resep tradisional serta terdapat 47 tumbuhan, 3 jenis hewan dan 5 bahan mineral alam yang digunakan sebagai pengobatan di Suku Tengger. Jenis-jenis penyakit yang diobati pada Suku Tengger adalah penyakit ringan yang sering terjangkit di kawasan tersebut.

Bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan obat oleh Suku Tengger sebagian besar sudah diteliti dan mempunyai khasiat obat, sehingga memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri obat tradisional. Antara lain Adas (Foeniculum vulgare Mill.) dan Pisang (Musa paradisiacal L.) mempunyai persentase pengetahuan dan penggunaan yang paling tinggi (lebih dari 50%), bawang merah (Allium ascolanicum L.), dringu ( Acorus calamus L.) , ganjan ( Tagetes signata Bartl.), grunggung (Pothentilla argunta Pursh), jambu biji (Psidium guajava L.), Jambu wer (Pimento dionica L.), Kunyit(Curcuma domestica Valeton), Tepung otot (belum teridentifikasi) mempunyai persentase pengetahuan atau penggunaan yang relatif sedang (berkisar antara 20%-50%). Sedangkan sisa tumbuhan yang lain mempunyai persentase sampai 20%.

Bahan obat yang berasal dari hewan dan bahan mineral yang diketahui atau digunakan oleh Suku Tengger mempunyai persentase sampai 20%. Semakin tinggi persentase penggunaan atau pengetahuan semakin tinggi tingkat kepercayaan bahwa tumbuhan, hewan atau bahan mineral alam dapat memberikan pengobatan.

Jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam sistem pengobatan pada umumnya adalah tumbuhan yang tumbuh di pekarangan dan dikembangkan dengan teknik budidaya sederhana (asal tanam), sedangkan bahan obat hewan dan bahan mineral alam didapatkan Suku Tengger jika memerlukan dan didapatkan disekitar kawasan Tengger. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang diambil langsung dari hutan sekitar wilayah Tengger.

Obat tradisional yang ada, digunakan oleh Suku Tengger secara turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi seiring dengan pewarisan budaya SukuTenger. Namun, pola pewarisan tersebut sangat terbatas dikalangan usia rata-rata diatas 45 tahun keatas. Hal ini terbukti dari responden penelitian yang memberikan informasi dari hasil metode pengambilan sample hanya dikalangan umur 45 tahun keatas. Dikhawatirkan ada kecenderungan terjadinya pengikisan pengetahuan pengobatan tradisional pada Suku Tengger. Sehingga perlu adanya inventarisasi tumbuhan dan tanaman obat tradisonal.yang digunakan oleh suku Tengger.

Salah satunya melalui penelitian ini…….

Diteliti oleh mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Jember : Yaya Sulthon Aziz S.Farm., Apt.
Law mau lihat literatur aslinya klik disini.

Lestarilah Alam  Q........

Sabtu, 24 September 2011

Etnofarmasi suku Tengger kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan

Akhirnya saya dapat mengepostkan salah satu penelitian Etnofarmasi yaitu penelitian Etnofarmasi suku Tengger di daerah Pasuruan. Sudah lama saya ingin mengepostkannya, tapi kesibukan yang menghambat saya. Semoga saja posting ini dapat menambah pengetahuan jumlah obat tradisional yang masih dikenal dan dibudidayakn oleh masyarakat Tengger khususnya di daerah Pasuruan.

Latar Belakang dan Tujuan dilakukannya penelitian etnofarmasi suku Tengger di daerah Pasuruan memiliki dasar yang sama dengan penelitian etnofarmasi di daerah Lumajang dan Malang yang sudah saya posting terlebih dahulu.

Grunggung
Dari hasil studi etnofarmasi tentang penggunaan tanaman obat pada suku Tengger di kecamatan Tosari kabupaten Pasuruan terinventarisasi beberapa jenis penyakit dengan resep tradisionalnya serta terdapat 69 tumbuhan, 6 jenis hewan, dan 2 bahan mineral. Cara Penggunaan bagian tumbuhan biasanya hanya diambil sarinya, dioleskan dan langsung dimakan. Jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam system pengobatan pada umumnya adalah tumbuhan yang tumbuh dipekarangan dan dikembangkan dengan teknis budaya sederhana (asal tanam). Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan yang diambil langsung dari hutan sekitar wilayah Tengger. Bahan-bahan yang digunakan sebagai bahan obat oleh Suku Tengger sebagian besar sudah diteliti dan mempunya khasiat sebagai obat, sehingga memiliki prospek untuk dikembangkan.

Diteliti oleh mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Jember : Wika Admaja S.Farm, dkk. 


LESTARILAH ALAM Q............. 

Flora dan Fauna di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Flora
Di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru terdapat kurang lebih 600 jenis flora, dan yang banyak dijumpai antara lain: mentigi (Vaccinium varingaefolium), akasia (Acacia decurrens), kemlandingan gunung (Albitzia lophanta), cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan adas (Funiculum vulgare). Begitu juga di hutan Semeru bagian selatan terdapat 157 jenis anggrek seperti Malaxis purpureonervosa, Maleola witteana dan Liparis rhodochila. Di samping jenis-jenis di atas terdapat pula jenis tumbuhan pegunungan Tengger di antaranya pakis uling (Cyathea Tenggeriensis), putihan (Buddleja asiatica), senduro (Anaphalis sp.) dan anting-anting (Fuchsia magallanica),jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Hidayat dan Risna (2007) menemukan 13 jenis tumbuhan obat di resort Ranu Pani, Senduro dan Pronojiwo . Tiga jenis diantaranya termasuk kategori tumbuhan obat langka yaitu pronojiwo (Euchresta horsfieldii), pulosari (Alyxia reinwardtii) dan sintok (Cinnamomum sintoc) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, dan satu jenis tumbuhan obat langka yaitu purwoceng (Pimpinella pruatjan) ditemukan di perkebunan penduduk.

Fauna
Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dan sedikit jenis mamalia yang dapat dijumpai, di antaranya: babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura), budeng (Presbytis cristata) dan beberapa jenis mamalia kecil lainnya.

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ) dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), dan elang bondol (Haliastur indus) yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

Penelitian oleh Suharto et al, (2005) di hutan Ireng-ireng wilayah konservasi Senduro Lumajang kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) selama dua bulan tentang kupu-kupu ditemukan sebanyak 31 species dan sub species yang berasal dari 21 genus dalam delapan famili. Satu species dilindungi undang-undang di Indonesia yaitu Troides Helena.

Kamis, 15 September 2011

Peran Obat Tradisional Makin Menguat




Back to nature, itulah gaya hidup yang dalam sepuluh tahun terakhir berkembang pesat di dunia barat, termasuk dalam mengatasi masalah kesehatan dan kebugaran tubuh. Sebagaimana kecenderungan di dunia barat lainnya, gaya hidup “kembali ke alam” tersebut, dengan cepat berkembang di Indonesia. Kebiasaan menggunakan tanaman obat untuk pencegahan dan pengobatan penyakit yang biasanya dilakukan orang-orang desa, kini mulai diterapkan orang-orang di kota. Jamu yang semula dikonsumsi masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah (kecuali di keratin), kini mulai dilirik masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas. Obat tradisional seperti music dangdut, kalau semula hanya menjadi konsumsi orang-orang desa, kalangan “arus bawah” dan pinggiran, kemudian mampu menjangkau segmen yang lebih atas dan lebih terpandang atau orang gedongan.

Dunia barat yang dipelopori ilmuwan-ilmuwan Amerika Serikat dan Jerman makin intensif dalam mengeksploitasi khasiat tanaman obat. Kemudian media cetak, televisi dan internet menanggapinya melalui pemberitaan dengan frekuesnu yang tinggi, mka terbentuklah kecenderungan baru berupa gaya hidup “kembali ke alam”.

Sebenarnya apa yang terjadi di barat tersebut terinspirasi oleh perkembangan di dunia timur, terutama di Cina, India, Jepang dan Korea yang sudah berabad-abad berupaya mengembangan tanaman obat. Kalau ditelaah, sebenarnya peradaban suku-suku dan kerajaan-kerajaan di Indonesia sejak seberapa abad yang lalu, sudah mengenai tanaman obat, namun dalam periode tertentu mengalami stagnasi, sehingga tertinggal jauh oleh perkembangan di beberapa Negara Asia Timur tersebut. Meskipun sampai saat ini masih tersisa resep-resep pengobatan tradisional berbasis tananam obat, namun hampir tidak mengalami perkembangan yang berarti.

Tidak dapat dipungkiri, kebijakan pemerintah mengenai kesehatan dan pendidikan (terutama kedokteran dan farmasi), terlalu berorientasi ke barat. Hal itu mengakibatkan pengobatan berbasis tanaman obat kurang mendapat dukungan dokter dan farmakolog. Padahal dengan memeprhatikan perkembangan terbaru, cukup ideal jika kurikulum pendidikan kedokteran dan farmasi mulai memasukan kajian mengenai tanaman obat.

Ketentuan bagi seorang lulusan kedokteran untuk dilengkapi dengan mengikuti pendidikan bidang pengobatan alternatif, sebagaimana diberlakukan pemerintah Cina, perlu dipertimbangkan penerpannya di Indonesia. Dengan demikian, selain menguasai pengobatan cara barat, seornag dokter mampu menawarkan pengobatan alternatif. Upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan seperti menerbitkan buku Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional, diharapkan lebih menggugah para dokter untuk mulai berani me-resep-kan obat alami berbahan baku tanaman obat (fitofarmaka).

Belum banyak dokter yang menggunakan obat tradisional, yang menjadi alasan klasik ialah tidak adanya uji klinik menyangkut keamanan, khasiat dan dampaknya. Untuk memperoleh pengakuan dan dapat dipasarkan secara bebas atau dengan resep dokter, obat tradisional (dan non modern) harus melalui tahapan uji klinik, dengan waktu minimal lima tahun dan biaya mendekati setengah milyar rupiah. Setelah lulus uji klinik baru dapat diproduksi secara masal. Untuk menjangkau konsumen diperlukan promosi dan distribusi yang membutuhkan biaya sangat besar. Pada akhirnya biaya-biaya tersebut akan dibebankan pada harga obat yang mahal. Tak heran jika obat-obatan tradisional tertentu, yang diproduksi perusahaan berskala besar dan sering dipromosikan melalui media cetak dan elektronik, hanya terjangkau oleh sebagian kecil masyarakat.

Sampai saat ini obat tradisional belum sejajar dengan obat modern, dengan demikian belum ada obat tradisional yang secara rutin dan tetap dipakai dalam kesehatan formal, meskipun ada juga dokter yang dengan “malu-malu kucing” mulai melirik obat tradisional.

Menurut Prof. Dr.R.Muchtan Sujatno dari RSHS/staf pengajar Unpad (dalam Pikiran Rakyat, 24 September 2001), banyak dokter yang sudah mengakui keampuhan obat tradisional. Di antara dokter-dokter yang selalu memberi resep obat-obatan kimiawi kepada pasiennya, malah memberi obat tradisional pada anggota keluarganya. Mereka menilai obat tradisional lebih aman ketimbang obat kimiawi tapi efektifitasnya tidak kalah.

Namun ada juga dokter yang berani secara terbuka mengakui khasiat obat tradisional, Dr.Boyke Dian Nugraha, DpOG, MARS, ginekolog dan konsultan sex dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta (Dalam Koran Tempo, 23 Maret 2001), mengemukakan bahwa keunggulan bahan-bahan alami adalah aman dipakai, tanpa efek samping. “Makanya saya selalu ingin mengobati pasien saya dengan bahan-bahan alami”. Menurutnya terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan yang mengandung bahan kimia berisiko terkena penyakit, seperti kanker. Sejak dulu ia dan keluarganya selalu berusaha mengobati penyakit dengan bahan-bahan alami. Sebagai contoh, ketika kedua putrinya sakit demam berdarah, Boyke mencoba membantu mengobati dengan jus jambu klutuk, yang menurut beberapa penelitian dan pengalaman empiris mampu meredakan penyakit tersebut. “Ternyata memang terbukti ampuh, setelah minum jus jambu klutuk, kedua putri saya bisa segera keluar dari ruang ICU”, ungkap Boyke. Bahan alami (dalam bentuk food supplement) yang biasanya diresepkan Boyke antara lain madu, lidah buaya dan mengkudu.

Selain dihadang formalitas bidang kesehata dan uji klinik, perkembangan obat tradisional dihadapkan pada kompetisi bisnis yang sangat ketat. Bagaimanapun obat-obat modern dibuat oleh perusahaan farmasi berskala raksasa, baik perusahaan asing maupun dalam negeri, yang sudah sangat berpengalaman dan menguasai pasar dengan berbagai strateginya.

Terlepas dari aspek formalitas bidang kesehatan, uji klinik dan kompetisi bisnis, namun sebagian besar dari 10.880 apotek (data tahun 2008) dan ribuan toko obat berizin yang ada di Indonesia sudah memajang berbagai merk obat tradisional di etalasenya. Omset penjualan obat tradisional tahun 2000 yang lalu mencapai 1,5 trilyun rupiah. Selain itu, permintaan pasar dunia terhadap suplemen diet yang terbuat dari berbagai campuran bahan obat mencapai 40 milyar dollar AS, produk yang bahan bakunya berasal dari tanaman obat mencapai 19,8 milyar dollar AS. Sedangkan Gabungan Pengusaha (GP) Jamu dan obat tradisional, memiliki target omzet penjualan jamu nasional pada tahun 2011, naik 10% menjadi Rp 10,12 triliun, dibanding realisasi omzet 2010 yang mencapai Rp 9,2 triliun.

Dibalik beragam kendala, ternyata banyak celah yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman obat, sebagai bahan baku tanaman obat. Di Indonesia terdapat sekitar 30.000 spesies tumbuhan, 940 spesies di antaranya berpotensi untuk dikembangkan mejadi tanaman obat. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu Negara terkaya di dunia dalam cadangan plasma nuftah tanaman obat. Sedangkan yang telah terdaftar di Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM) dan digunakan oleh industri obat tradisional baru mencapai 283 spesies tanaman.

Strategi pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional Indonesia (obat asli Indonesia) meliputi tiga segmen, yaitu jamu, sediaan ekstrak terstandar dan sediaan fitofarmaka (obat dari bahan alami tanaman obat). Bila target pemasaran tidak darahkan pada bidang pelayanan kesehatan formal (hanya menjangkau pasar nonformal), maka tidak ada ketentuan untuk melakukan uji klinik. Dengan demikian bagi obat tradisional yang melum menempuh uji klinik, tertutup kemungkinannya untuk digunakan di 1.523 rumah sakit (data tahun 2010), 8.854 Puskesmas (data tahun 2010) dan puluhan ribu klinik atau praktek dokter yang ada di Indonesia, namun tetap berpeluang untuk secara langsung digunakan oleh masyarakat.

Terhadap kebutuhan bidang kesehatannya, masyarakat menjadi punya banyak pilihan, bisa memilih obat modern yang umumnya dianggap mahal, tiga segmen obat tradisional, atau mencari tanaman obat sendiri di halaman rumah, di sawah, atau di hutan. Dalam hal ini pemahaman masyarakat mengenai khasiat tanaman obat tertentu perlu ditingkatkan. Upaya yang ditempuh Prof. Hembing Wijayakusumah dan pakar pengobatan tradisional lainnya, baik melalui buku, media cetak dan media elektronik perlu terus ditumbuh-kembangkan.

Ternyata ada tanaman yang berkhasiat untuk mengobati kanker, hepatitis, batu ginjal atau beragam penyakit lainnya. Sebagian pengalaman masyarakat menyangkut khasiat tanaman obat tertentu, kemudian diteliti lebih lanjut dan dibuktikan secara ilmiah, antara lain oleh Pusat Penelitian Obat Tradisional (PPOT) yang ada di UGM dan Unibraw. Ternyata alam menyediakan berbagai obat untuk beragam penyakit yang diderita manusia. Setiap penyakit tentu ada obatnya.

dituis oleh : Atep Afia (http://kesehatan.kompasiana.com)

Jumat, 09 September 2011

Omzet Industri Farmasi Tumbuh 12%

Jakarta: Omzet industri farmasi diperkirakan tembus Rp41,99 triliun pada tahun ini atau naik 12% dibandingkan dengan pencapaian 2010 sebesar Rp37,53% triliun, didorong oleh peningkatan konsumsi obat generik.



Berdasarkan informasi yang dirangkum Business Monitoring International (BMI), pasar farmasi nasional relative masih kecil dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Pasifik. Namun, BMI meyakini beberapa faktor seperti pertumbuhan pasar tahunan, yang dikombinasikan dengan peningkatan jumlah penduduk serta stabilitas politik dan ekonomi akan memberikan penerimaan operasi yang substansial bagi perusahaan farmasi di Indonesia. “Ini yang menjadikan perusahaan multinasional tertarik untuk berinvestasi di Indonesia,” tulis laporan BMI yang diperoleh Bisnis kemarin.

BMI memproyeksikan omzet industri farmasi nasional tahun ini mencapai Rp41,99 triliun pada 2011, meningkat 11,9% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu Rp37,35 triliun. “Farmasi akan menghasilkan omzet Rp41,99 triliun atau naik 11,9% dibandingkan dengan tahun lalu. Ada sedikit perubahan berdasarkan hasil omzet farmasi pada kuartal II/2011”. Ketua International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG) Indonesia Lutfi Mardiansyah mengatakan omzet farmasi nasional selama semester I memang tumbuh sekitar 11% dan diperkirakan tren akan berlanjut hingga akhir tahun.

Menurut dia, berdasarkan jenisnya, penjualan obat resep mengalami peningkatan lebih signifikan dibandingkan dengan obat bebas. Komposisi obat yang beredar dipasaran nasional saat ini cenderung berimbang antar obat bebas dan obat resep. “Pertumbuhan konsumsi obat resep (ethical) lebih tinggi, di atas 11%, dibandingkan dengan obat bebas yang tumbuh lebih rendah,” ujarnya. Obat bebas, lanjut Lutfi, sangat dipengaruhi oleh daya beli masyarakat dan tingkat kepedulian terhadap obat bebas, yang antara lain bisa diperoleh dari iklan.

Dia mengatakan pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan domestik bruto dan kecenderungan masyarakat untuk berbelanja obat, baik melalui resep dokter maupun pengobatan mandiri, menjadi faktor utama peningkatan konsumsi obat. “Kalau melihat total industri, sebenarnya pertumbuhan omzet ini juga menunjukkan meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya obat yang lebih tinggi.”

Berdasarkan struktur industrinya, Lutfi mengatakan pertumbuhan lebih tinggi akan dialami oleh perusahaan farmasi nasional dibandingkan dengan perusahaan multinasional. Dia mengatakan pertumbuhan omzet perusahaan farmasi nasional mencapai 11% selama semester I/2011, sementara perusahaan farmasi multinasional hanya tumbuh 9% pada saar yang sama. “Padahal, melihat strukturnya, pasar farmasi nasional itu sudah 70% dikuasai oleh perusahaan lokal, sedangkan sisanya perusahaan multinasional. Tingkat pertumbuhan perusahaan farmasi nasional ternyata juga tumbuh lebih tinggi, yaitu di atas 11% pada semester I,” ungkapnya.

Lutfi mengatakan tingginya pertumbuhan omzet perusahaan farmasi nasional karena ditopang oleh penjualan obat generik yang menunjukkan tren semakin meningkat. “Mereka kan 100% memproduksi dan memasarkan produk obat generik bermerek. Tren penggunaan obat generik di masyarakat belakangan menguat sehingga sangat wajar jika perusahaan farmasi nasional menikmati pertumbuhan tinggi itu. Tren ke depan sampai akhir tahun rasanya tidak akan mengalami banyak perubahan.”

Dalam laporan tersebut, BMI juga mengungkapkan belanja masyarakat untuk perawatan kesehatan menyeluruh di Indonesia mencapai Rp152,95 triliun atau naik 14,7% dibandingkan dengan 2010 sekitar 133,37 triliun, Adapun omzet untuk perangkat kesehatan selama 2011 diperkirakan Rp3,08 triliun atau naik 11,7% dibandingkan dengan realisasi 2010 yang mencapai Rp2,76 triliun.

Sumber: Bisnis Indonesia   (http://www.ptphapros.co.id)