Go Green Go Etnopharmacy

Laman

Etnofarmasi

Etnofarmasi suku Tengger desa Ngadas kecamatan Poncokusumo kabupaten Malang

Etnofarmasi

Etnofarmasi suku Tengger kecamatan Senduro kabupaten Lumajang

Industri Farmasi

Omzet Industri Farmasi Tumbuh 12%

Hutan Indonesia

Hutan Tropisku

Pemanasan global

Global Warming

Jumat, 09 September 2011

Relatif Kecil Jumlah Fitofarmaka Dan OHT Indonesia

JAKARTA : Di Indonesia, baru terdapat lima jenis tanaman yang masuk kategori fitofarmaka. Sedangkan, tanaman obat kategori Obat Herbal Terstandar (OHT) baru sekitar mencapai 17 jenis. Masih sekitar puluhan tanaman obat unggulan lainnya, yang masih harus diujicobakan.

“Badan Pengawas Obat dan Makanan sudah melansir sejak 2003 sekitar 9 tanaman obat siap menjadi fitofarmaka, dan pada 2005 sedikitnya 18 jenis tanaman obat unggulan yang siap menjadi fitofarmaka dan OHT,” ujar Dr. Rifatul Widjhati MSc. Apt, Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT di Jakarta, Senin (3/12).

Kelima jenis fitofarmaka yang ada saat ini, yaitu nodiar sebagai anti diarea, rheumaneer sebagai anti remautik, stimuno, sebagai peningkat daya tahan tubuh, tensigard agromed, anti hipertensi, serta x-gra untuk stamina lelaki. Sedangkan, 17 jenis obat tanaman yang masuk kategori obat terstandar, yaitu diabmeneer, diapet, kiranti (obat datang bulan), fitogaster, fitolac, lelap dan lain sebagainya.

Sedangkan sembilan jenis tanaman obat yang siap menjadi fitofarmaka, yaitu cabe jawa sebagai androgenik, temulawak untuk anti hiperfipedemia, Daun Jambu Biji, sebagai obat anti demam berdarah, buah mengkudu dan daun salam sebagai anti diabet, jati belanda untuk anti hiperfidemia, jahe merah sebagai anti neoplasma, serta rimpang kunyit untuk anti hiperfidemia.

Sementara 18 belas jenis tanaman obat unggulan lainnya yang siap menjadi fitofarmaka dan OHT yaitu brotowali (antimalaria antidiabetic), kuwalot (antimalaria), akar kucing (anti asam urat), sambiloto (antimalaria), johar (perlindungan hati), biji papaya (kesuburan), daging biji bagore (antimalaria), daun paliasa (perlindungan hati), makuto dewo (perlindungan hati), daun kepel (asam urat), akar senggugu (sesak napas), seledri (batu ginjal),

Gandarusa (KB lelaki), daun johar (anti malaria), mengkudu (dermatitis), mengkudu rimpang jahe (anti TBC), umbi lapis kucai (anti hipertensi), jati belanda & jambu biji (pelangsing). “Untuk OHT dan fitofarmaka, bahan bakunya atau ekstrak tanaman obatnya harus sudah distandarisasi isi kandungan senyawanya,” ujarnya.

Berbeda dengan jamu yang dimanfaatkan berdasarkan informasi khasiat secara turun temurun, serta belum diuji secara praklinis maupun klinis, OHT yaitu formula tanaman obat baik single maupun campuran yang sudah lolos uji praklinik (uji khasiat dan keamanan) pada hewan coba. Sedangkan, fitofarmaka, sudah lolos uji klinis pada manusia. “Biasanya diuji di beberapa rumah sakit atau layanan kesehatan,” ujarnya. (Lea)

Sumber: http://portal.ristek.go.id/news.php?page_mode=detail&id=689

Etnofarmasi suku Tengger desa Ngadas kecamatan Poncokusumo kabupaten Malang

Bangsa Indonesia telah lama mengenal dan menggunakan tanaman berkhasiat obat sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi masalah kesehatan, serta Setiap orang Indonesia pernah menggunakan tumbuhan obat untuk mengobati penyakit dan diakui serta dirasakan manfaat tumbuhan obat ini dalam menyembuhkan penyakit yang diderita. Hal ini didukung dengan banyaknya Sumber Daya Alam yang tersedia.

Di seluruh wilayah Nusantara, berbagai suku asli yang hidup di dalam sekitar hutan telah memanfaatkan berbagai spesies tumbuhan untuk memelihara kesehatan dan pengobatan berbagai macam penyakit. Pengetahuan lokal dan tradisional telah dimiliki oleh suku-suku di Indonesia untuk pemanfaatan tumbuhan obat, yaitu mulai dari spesies tumbuhan, bagian yang digunakan, cara pengobatan, sampai penyakit yang dapat disembuhkan.

Namun proses pewarisan pengetahuan lokal obat tradisional banyak dilakukan secara oral dan masuknya budaya modern ke masyarakat tradisional dikhawatirkan akan menyebabkan pengetahuan lokal akan mengalami erosi dan hilang. Hal ini mendorong upaya pelestarian pengetahuan lokal obat tradisional sedini mungkin.

Akhir-akhir ini penelitian tentang jenis-jenis tumbuhan yang berpotensi dan diduga berpotensi sebagai obat gencar dilakukan. Sebagai langkah awal yang sangat membantu untuk mengetahui suatu tumbuhan berkhasiat obat adalah dari pengetahuan masyarakat tradisional secara turun menurun. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan etnofarmasi.

Salah satu suku yang masih teguh melaksanakan adat-istiadat adalah Suku Tengger yang tinggal di wilayah 4 kabupaten yaitu Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang.

Seperti pada kebanyakan suku-suku yang ada di Indonesia, pengetahuan lokal terutama obat tradisional Suku Tengger belum terdokumentasi dengan baik. Padahal, proses pewarisan pengetahuan lokal terutama melalui mulut serta masuknya budaya modern dapat menyebabkan pengetahuan tersebut dapat tererosi dan hilang apalagi Suku Tengger hidup ditengah masyarakat yang berkembang. Di Kabupaten Malang yang masih masuk dalam Desa Tengger hanya Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo. Untuk itu perlu dilakukan studi etnofaramasi pada desa tersebut untuk melestarikan pengetahuan tentang obat tradisional dan sebagai dasar untuk pengembangan obat baru.

Dari penelitian Etnofarmasi Suku Tengger Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang didapatkan data sebagai berikut :
1. Terinventarisasi 28 jenis penyakit pada Suku Tengger Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.
2. Terinventarisasi 44 tumbuhan, 3 bahan yang berasal dari hewan, dan 3 bahan mineral yang digunakan sebagai obat tradisional pada Suku Tengger Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.
3. Terinventarisasi 77 resep tradisional pada Suku Tengger Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang.
4. Bahan-bahan tersebut penggunaannya ada yang dipakai tunggal maupun dibuat ramuan dalam mengobati penyakit dan dilakukan sendiri terutama pada penyakit yang sifatnya ringan, namun ada juga yang dilakukan oleh orang lain.

Salah  satu tumbuhan di daerah Tengger : Sri Pandak


5. Didapatkan 10 tumbuhan yang dianggap paling penting untuk dilakukan penelitian yang lebih mendalam pada Suku Tengger Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang sebagai obat tradisional dilihat dari nilai Use Value dan nilai Informant Concencus Factor.




diteliti oleh mahasiswa Universitas Jember : Rizki Putra Teguh P. S. Farm.

Lestarilah Alam Q.......

Kamis, 08 September 2011

Etnofarmasi suku Tengger kecamatan Senduro kabupaten Lumajang

Hutan tropika Indonesia kaya akan tumbuhan obat, terdapat 20.000 jenis tumbuhan obat, 1.000 jenis yang sudah didata, dan 300 jenis dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Sampai tahun 2001 Laboratorium Konservasi Tumbuhan Fakultas Kehutanan IPB telah mendata dari berbagai laporan penelitian dan literatur, tidak kurang dari 2039 spesies tumbuhan obat yang berasal dari hutan Indonesia. Tumbuhan obat merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan untuk pembuatan obat tradisional. Tumbuhan obat biasanya sudah digunakan secara tradisional oleh masyarakat berdasarkan pengalaman.

Bertambah majunya jaman akan berdampak pada modernisasi budaya yang dapat menyebabkan hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran akan semakin merosotnya pengetahuan lokal suku-suku bangsa pada masing-masing daerah di Indonesia.

Sehingga perlu dilaksanakan upaya-upaya pelestarian pengetahuan tentang obat tradisional pada masyarakat di Indonesia. Upaya tersebut mulai dari inventarisasi, pemanfaatan, budidaya sampai dengan pelestarian yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, diantaranya adalah taksonomi, etnobotani, etnofarmasi, dan bioteknologi.

Sejauh ini belum banyak penelitian mengenai pemanfaatan obat tradisional pada suku-suku di Indonesia. Salah satu suku yang terdapat di Indonesia adalah suku Tengger. Masyarakat suku Tengger khususnya pada kabupaten Lumajang masih memegang adat-istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Secara geografis Suku Tengger pada Kabupaten Lumajang terletak jauh dari pusat ritual kebudayaan masyarakat Suku Tengger, yang umumnya berada di sekitar kawah gunung Bromo. Hal ini dapat menyebabkan modernisasi dari peradaban luar yang cepat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian etnofarmasi dengan metode kualitatif dan kuantitatif di Suku Tengger Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang, agar kelestarian pengetahuan maupun penggunaan obat tradisional tetap terjaga dan dapat digunakan sebagai referensi dasar untuk pengembangan obat baru.


Dringu : Salah satu tumbuhan khas Tengger


Pada penelitian Etnofarmasi yang dilakukan terhadap masyarakat lokal Suku Tengger Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang diperoleh data sebagai berikut :

1. Terinventarisasi 26 jenis penyakit dalam 8 kategori penyakit yang diobati dengan menggunakan obat tradisional pada Suku Tengger kecamatan Senduro kabupaten Lumajang.
2. Terinventarisasi 54 spesies tumbuhan, 2 spesies hewan, dan 3 bahan mineral yang digunakan sebagai obat tradisional pada Suku Tengger Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.
3. Terinventarisasi 82 resep tradisional yang dimanfaatkan untuk pengobatan pada Suku Tengger Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.
4. Bahan-bahan obat yang terdapat pada Suku Tengger Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang penggunaannya dapat dipakai secara tunggal maupun dibuat ramuan untuk mengobati suatu penyakit tertentu.
5. Terdapat 12 spesies tumbuhan untuk mengobati 6 jenis penyakit yang berpotensi untuk dilakukan uji bioaktivitas lebih mendalam dari Suku Tengger Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang.

diteliti oleh mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Jember : Weka Sidha Baghawan S.Farm


Lestarilah Alam Q.....

Rabu, 07 September 2011

Industri Obat yang Menggiurkan.....

Dari 40.000 jenis flora yang ada di dunia sebanyak 30.000 jenis dijumpai di Indonesia dan 940 jenis di antaranya diketahui berkhasiat sebagai obat yang telah dipergunakan dalam pengobatan tradisional secara turun-temurun oleh berbagai etnis di Indonesia. Jumlah tumbuhan obat tersebut meliputi sekitar 90% dari jumlah tumbuhan obat yang terdapat di kawasan Asia (Puslitbangtri, 1992). Pemanfaatan bahan obat alami menjadi obat tradisional di Indonesia belumlah optimal untuk saat ini.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 246/Menkes/Per/V/1990 Obat Tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dan bahan-bahan tersebut, yang secara traditional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.obat tradisional ada 2 kategori yaitu lndustri Obat Tradisional (IOT) dan lndustri Kecil Obat Tradisional (IKOT).

lndustri Obat Tradisional (IOT) : adalah industri yang memproduksi obat traditional dengan total asset diatas Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah), tidak termasuk harga tanah dan bangunan.

lndustri Kecil Obat Tradisional (IKOT): adalah industri obat tradisional dengan total asset tidak lebih dari Rp. 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah), tidak termasuk harga tanah dan bangunan

Jumlah industri obat tradisional meningkat dari 165 buah pada tahun 1981 menjadi 427 pada tahun 1991. Pada tahun 2000, jumlahnya telah mencapai 985 perusahaan dengan nilai produk sekitar Rp 3 triliun. Pada tahun 2002 terdapat 118 IOT dan 917 IKOT. Pada tahun 2007 jumlah IOT bertambah menjadi 118 sedangkan IKOT berkurang menjadi 905. Selain IOT dan IKOT, pada tahun 2005 terdapat 872 perusahaan yang terdaftar di Badan POM sebagai industri yang menggunakan tanaman obat sebagai salah satu bahan bakunya dan 472 perusahaan modal asing yang memproduksi obat tradisional.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2006, ekspor beberapa jenis tanaman obat, seperti kapolaga, adas, temulawak, jahe, kunyit dan salam mencapai 15.500 ton dengan nilai US$ 28.798.000. Seiring dengan meningkatnya jumlah industri obat tradisional di Indonesia dan tingginya penggunaan obat tradisional/jamu dan produk fitofarmaka di dalam maupun diluar negeri mengakibatkan tingginya permintaan terhadap penyediaan bahan baku obat dari tumbuhan yang berkualitas secara kontinyu.

Industri obat tradisional sangatlah menggiurkan. Kesempatan untuk terjun pada industi obat tradisional sangatlah besar, hal ini didukung dengan sumber daya alam Indonesia yang sangat melimpah dan belum tereksplorasi secara maksimal.. Juga didukung dengan peningkatan permintaan obat tradisional dimasyarakat. Pada tahun 1984 volume penjualan obat tradisional sebesar 970,6 ton, dan pada tahun 1998 terjadi peningkatan sekitar 10 kali lipat menjadi 9.273,4 ton. Pada tahun 2002 omset obat alami secara nasional sekitar satu triliun rupiah dan pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp 1,4 triliun, 2010 meningkat menjadi Rp 7,2 triliun.

Apakah anda ingin menjadi salah satu pemasok bahan baku atau membuat industri obat tradisonal baru???? Peluang terbuka lebar....Silahkan mencoba....

Lestarilah alamku!!!!!


Selasa, 06 September 2011

Tanaman yang berguna untuk Obat

Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tanaman obat, dan sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum dikelola secara maksimal. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000 jenis tumbuhan dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia, 940 jenis diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat obat yang telah digunakan (jumlah ini merupakan 90% dari jumlah tumbuhan obat di Asia).

Berdasarkan hasil penelitian, dari sekian banyak jenis tanaman obat, baru 20-22% yang dibudidayakan. Sedangkan sekitar 78% diperoleh melalui pengambilan langsung (eksplorasi) dari hutan. Potensi tanaman obat di Indonesia, termasuk tanaman obat kehutanan, apabila dikelola dengan baik akan sangat bermanfaat dari segi ekonomi, sosial budaya maupun lingkungan. Negara berkembang mempunyai peranan penting dalam penyediaan bahan baku produk farmasi (38% untuk medical dan aromatic plants, 24% untuk vegetables saps dan extract,dan 11% untuk vegetables alkaloids).

Tahun 2005, Uni Eropa tercatat sebagai net importir rempah dan herbal dengan total impor 358,2 ribu ton dan terus meningkat 4% per tahun sejak tahun 2003. Sebanyak 60% dari total rempah dan herbal Uni Eropa berasal dari negara berkembang, namun bukan berasal dari Indonesia melainkan Cina, India, Maroko dan Turki. Ini merupakan peluang bagi Indonesia untuk pengembangan ekspor tanaman obat ke pasar Uni Eropa (Litbang Kementrian Kehutanan).

Pemanfaatan tanaman atau tumbuhan obat telah berlangsung sejak jaman nenek moyang telah menghasilkan kearifan tersendiri. Kearifan tersebut muncul dalam bentuk budaya pemanfaatan nilai khasiat yang terkandung didalamnya.

Masih banyak tumbuhan atau tanaman obat yang belum diketahui khasiatnya secara klinis, tetapi sudah diketahui khasiatnya secara empiris. Untuk itu perlu perhatian dan kebijakan dari pemerintah maupun para intelektual untuk mengiventarisasi, membudidayakan, menguji khasiatnya, dan selatjutnya mengembangkan menjadi obat baru. Sehingga pemanfaatan tanaman atau tumbuhan obat dapat dilakukan secara optimal. Tanaman atau tumbuhan yang sudah dikembangkan menjadi obat baru selayaknya juga harus dibudidayakan untuk menghindari kepunahan.

Dengan kebijakan pemerintah, kebijakan para intelektual, perubahan cara pandang masyarakat terhadap tanaman obat tradisional, kemampuan riset dan teknologi yang ditingkatkan dan diintegrasikan, maka tidak mustahil Indonesia dapat menjadi pemasok terbesar obat tradisional didunia.

Lestarilah Alamku!!!!!